KEN JAGATPARAHITA

Jujur, Tertib, Sopan

Creation Friends Home News School

Rumah Kayu Berlampu Kelap Kelip Karya Ken

KENJAGATPARAHITA.ID – Siang itu siswa SD Pedagogia Yogyakarta berkumpul di depan kelas. Mereka berjajar, berbaris memanjang, bersiap pulang. Sekolah ini memang memiliki tata cara sendiri ketika jam belajar selesai.

Tidak ada siswa ngeluyur begitu saja. Guru selalu memberi komando agar siswa berjajar memanjang, berbaris. Setelah semuanya siap, siswa akan bersama-sama menuju pintu keluar siswa. Biasanya orang tua sudah menunggu, menjemput para siswa di pendopo sekolah.

Ken Jagatparahita kala itu tampak ceria. Seperti biasa, dia bersama teman-temannya sambil bercanda mencari orang tua masing-masing. Papa dan Mama Ken waktu itu menjemputnya. Sebelum jam pulang, papa dan mama Ken sudah sampai pendopo.

“Papa…. aku mau ikut Robotic. Aku ganti aja yang ekstra Bahasa Inggris-nya,” kata Ken.

“Lho kok malah lepas yang Bahasa Inggris-nya? Jawab papa Ken.

“Kan hanya boleh pilih tiga. Gak boleh empat. Aku renang sama komputernya masih seneng,” jawab Ken.

Semangat Ken ikut ekstrakurikuler robotic meluluhkan hati papa dan mama. Ken pun diizinkan ikut Robotic di semester dua. Karena pihak sekolah hanya boleh mengubah ekstrakurikuler pas pergantian semester.

Hari yang ditunggu tiba. Ken memasuki semester dua. Dia pun mulai ikut ekstrakurikuler robotic. Ken senang sekali. Dia selalu menunggu-nunggu hari ekstrakurikuler robotic tiba.

Jauh hari, Ken sudah minta lem tembak sebagai bekal membuat karya bersama teman-temannya di ekstrakurikuler robotic. Ken tampak senang sekali ikut kegiatan ekstrakurikuler ini.

Hari pertama ikut esktrakurikuler robotic, Ken belum membuat karya. Dia baru membuat karya pada hari kedua.

Karya pertamanya adalah rumah kayu, ada hiasan lampunya. Lampu warna kelap kelip. Ken senang sekali. “Pa ini aku yang buat. Ini lampunya. Ini pintunya. Ini pagarnya.”

Papa dan mama senang sekali melihatnya. Apalagi melihat Ken semangat membuat karyanya. Kagum juga melihat Ken bisa membuat karya.

Sepanjang perjalanan pulang, karya Ken dibawa. Cuma agar lampunya mati, batu baterai dilepas. Di tengah perjalanan, batu baterai jatuh di jalan raya. Ken sedih.

“Baterainya jatuh pa,” kata mama.

“Iya tadi di sana,” kata Ken sembari merengek sedih.

“Udah tenang saja. Papa belikan lagi baterainya. Warung jual kok,” kata papa sembari ngegas motor Grand pinjaman Pakde Sigit.

Tak lama, Ken sekeluarga melewati warung. Papa mengurangi kecepatan sepeda motor, lalu berhenti di depan warung persis. Papa, mama, dan Ken lantas turun. Beli baterai.

Alhamdulillah. Warung jual baterai. Ken pun mengambil baterai yang disodorkan pemilik warung. Ken pun senang. Rumah kayunya kini menyala lagi.

Papa, mama, dan Ken pun lantas kembali pulang ke rumah. Papa dan Ken pun lantas bermain rumah kayu bersama.

Semangat berkarya, Ken! (*)

LEAVE A RESPONSE

Your email address will not be published. Required fields are marked *