KEN JAGATPARAHITA

Jujur, Tertib, Sopan

Home News Travel

Menikmati Keindahan Candi Borobudur

Juru Catat Kenjagatparahita.ID, papaKen

KENJAGATPARAHITA.ID, MAGELANG – Candi Borobudur di Kabupaten Magelang merupakan destinasi sejarah pertama yang dikunjungi Ken Jagatparahita.

Kala itu cuaca panas. Minggu (4/11) siang. Ken menuju Candi Borobudur menggunakan sepeda motor. Sebelumnya Ken inap do Wahid Hotel yang jaraknya hanya sekitar 200 meter dari pagar candi.

Candi Borobudur sangat luas. Jarak candi dengan pintu gerbang masuknya sangat jauh. Cuaca panas membuat perjalanan terasa amat berat. Papa dan mama terengah-engah.

Ken ketika itu sangat kuat. Papa dan mama kewalahan mengikuti Ken. “Ken tunggu. Pelan-pelan,” teriak papa.

Ken jalan cepat sekali. Dia juga tak kelihatan capai. Ken terus berjalan menaiki undak-undakan candi. Papa mama sampai khawatir, karena Ken semangat sekali jalannya. Takutnya kalau kecapaian.

Terlalu tinggi dan melelahkan. Banyak anak seusia Ken waktu itu kelelahan. Mereka merengek, menangis dan bosan sekali jalan-jalannya. Memang luas sekali halaman Candi Borobudur. Cuaca panas kala itu memang bikin suasana tidak nyaman untuk jalan-jalan di Borobudur.

Agar tidak kepanasan, papa menyewa payung. Setidaknya ini mengurangi. Eh, Ken malah gak mau pakai payung. Kayaknya merasa ribet. Dia lebih nyaman tanpa payung, lebih luwes.

Ini pengalaman. Lain kali kalau main ke Borobudur, mending pagi sekali, atau malah sore sekalian. Supaya tidak kepanasan dan bisa menikmati perjalanan.

“Ayo, Pa. Naik lagi,” ajak Ken.

“Pelan-pelan saja Ken,” jawab papa karena melihat jalannya Ken cepat sekali.

Tak lama, akhirnya Ken sampai di puncak candi. Papa dan mama ngos-ngosan. Ken malah masih ceria. Papa rasanya kepanasan dan haus. Tapi Ken terlihat biasa saja.

Sampai di puncak candi, Ken sempat mutar sebentar. Duduk sebentar, lalu mengajak turun lagi. Jadi, di puncak candi malah tidak lama, hanya sekitar 15 menit saja. “Pa ayo turun, trus pulang,” kata Ken.

“Nanti saja Ken. Papa masih lelah,” kata papa.

“Iya. Nanti dulu. Foto-foto dulu,” mama menyahut pembicaraan.

Emoh. Ayo turun,” katanya.

Akhirnya papa dan mama mau turun. Ken jalan turun seakan sudah tak betah lagi di candi. Kelihatannya karena sangat panas sekali, sehingga tidak nyaman.

Ken, papa, dan mama turun menyusuri undak-undakan candi. Pelan-pelan. Tangan pegangan besi yang dipasang di undak-undakan. Takut terjatuh karena kelelahan.

Alhamdulillah. Akhirnya sampai bawah. Napas sudah ngos-ngosan. Mama dan papa mengajak Ken berhenti dulu, berteduh di bawah pohon. Awalnya, Ken tidak mau. Tapi akhirnya mau.

Ken kepengin segera beli oleh-oleh gantungan kunci buat teman-teman sekolahnya. Tak lama setelah berteduh, perjalanan menuju pintu keluar dilanjutkan.

Pintu keluar Candi Borobudur diarahkan ke area belanja. Di situlah Ken membeli gantungan kunci. Ken tak tertarik apa-apa, kecuali gantungan kunci buat oleh-oleh untuk teman-temannya. Ken memilih gantungan kunci bermotif stupa Candi Borobudur.

Melanjutkan perjalanan, Ken gak jajan apa-apa. Dia hanya makan jajannya ketika beli di minimarket, di luar kawasan candi. Papa dan mama malah yang sempat jajan. Papa jajan buah pepaya. Mama jajan buah nangka.

“Kita duduk di sini dulu. Ngemil sebentar. Terus pulang,” ajak papa, duduk di dekat pengambilan barang titipan, dekat pintu keluar.

Istirahat sebentar sudah cukup memulihkan stamina. Ken, papa, dan mama akhirnya memutuskan kembali ke penitipan sepeda motor, lalu pulang. Ken dan papa pipis dulu di toilet penitipan sepeda, sebelum ngegas motor milik Pakde Sigit menuju rumah di Bantul.

Perjalanan pulang ke Bantul Ken sekeluarga melewati jalur selatan, lewat Kulon Progo dan tembus ke Godean, Sleman. Kemudian, melaju menuju Bantul lewat ring road selatan. Sepanjang perjalanan, Ken tertidur pulas. Hmm… senangnya jalan-jalan! (*)

LEAVE A RESPONSE

Your email address will not be published. Required fields are marked *