KEN JAGATPARAHITA

Jujur, Tertib, Sopan

Article

Sinergi Tri Pusat Pendidikan di Era Digital

KITA sekarang berada pada suatu masa dimana teknologi informasi berkembang sangat pesat. Bumi serasa dalam genggaman. Cukup mengoperasikan smartphone, kita bisa melakukan apa saja. Sekadar menyapa teman jarak jauh hingga belanja produk luar negeri.

Gaya hidup masyarakat kekinian sudah berbeda dibanding zaman dulu. Mereka yang lahir di era digital, misalnya Generasi Z (lahir 1995-2010) atau Generasi Alpha (lahir 2011-2025), punya style sendiri dalam mengarungi kehidupannya. Mereka sudah akrab dengan dunia digital sejak lahir.

Saat sang ibu melahirkannya, sang ayah sigap mendokumentasikan. Bahkan, ada ayah yang memvideo proses kelahiran anaknya. Tak lama menghirup udara dunia, foto berikut video si jabang bayi sudah nongol di laman media sosial orangtua.

Generasi Z dan Generasi Alpha tak bisa jauh-jauh dari perangkat teknologi. Sejak lahir mereka sudah akrab dengan perangkat digital. Semakin usianya bertambah, si kecil semakin intim dengan teknologi, terutama telepon pintar. Telepon pintar ini alat meninabobokan anak paling instan.

Tinggal ditunjukkan gambar, video, atau didengarkan suara lagu-lagu, si kecil seakan terhipnotis sehingga merasa terhibur, nyaman di dunia maya. Beranjak dewasa, memasuki zona pendidikan anak usia dini (PAUD), si kecil semakin menggandrungi smartphone. Dari awalnya hanya ikut menonton, lama kelamaan mencoba, menguasai, lalu meminta dibelikan smartphone sendiri.

Inilah gambaran keluarga masa kini yang tak bisa lepas dari pengaruh teknologi. Seiring situasi keluarga generasi internet yang tak bisa jauh dari teknologi informasi, dunia pendidikan pun punya tantangan tersendiri. Bagaimana sekolah menggandeng peran orangtua yang sibuk bekerja dan mengandalkan teknologi informasi untuk memantau anaknya.

Orangtua sibuk biasanya memilih cara instan dalam mendidik anaknya. Mencari asisten rumah tangga, mengandalkan lembaga penitipan anak, atau memilih sekolah full day untuk anaknya. Dalam konteks ini, seakan-akan sekolah pemain tunggal dalam dunia pendidikan anak.

Situasi ini membahayakan. Orangtua kurang care terhadap masa depan pendidikan anaknya. Orangtua memasrahkan segala sesuatunya kepada sekolah, sementara mereka hanya memantau jarak jauh lewat gawainya.

Pesatnya perkembangan teknologi informasi ini mestinya direspons sewajarnya, dengan tidak mengabaikan peran penting keluarga dalam mendidik anak. Orangtua harus mengambil peran mengawal pendidikan si buah hati di luar sekolah.

Ekosistem Pendidikan

Pendidikan bukan sekadar urusan sekolah, tetapi juga urusan keluarga dan masyarakat. Peran tiga pilar tersebut oleh bapak pendidikan nasional, Ki Hadjar Dewantara, disebut tri pusat pendidikan. Ki Hadjar menjelaskan bahwa sekolah, keluarga, dan masyarakat saling berhubungan simbiotis dan tidak dapat dipisahkan satu sama lainnya.

(Baca: Pidato Mendikbud pada Upacara Hari Pendidikan Nasional 2017;  https://sahabatkeluarga.kemdikbud.go.id/laman/index.php?r=tpost/xview&id=4061)

Menjalin kemitraan dan keselarasan program pendidikan pada satuan pendidikan, keluarga, dan masyarakat, sangat diperlukan untuk membangun ekosistem pendidikan yang kondusif.

Orangtua tidak bisa lepas tangan dalam urusan pendidikan anaknya. Orangtua perlu terlibat dalam kegiatan sekolah agar memahami program sekolah, dan menyelaraskannya pada kegiatan anak di rumah. Dengan demikian, orangtua bisa memberi dukungan belajar agar anak memperoleh kemajuan.

Di sisi lain, orangtua bisa memberi masukan kepada sekolah kalau dipandang perlu. Orangtua juga bisa membantu sekolah dalam mengatasi berbagai permasalahan. Melalui ekosistem pendidikan yang selaras, maka akan mewujudkan pola kemitraan yang saling menghargai dan melengkapi, sehingga terjalin pola yang seimbang perihal asah, asih, dan asuh.

Ekosistem pendidikan semakin kokoh kalau ada peran masyarakat. Keterlibatan masyarakat bisa melalui kegiatan penyelenggaraan dan pengendalian mutu layanan pendidikan, baik secara perseorangan, kelompok, oraganisasi profesi, dunia usaha, maupun organisasi masyarakat.

Terselenggaranya pola tri pusat pendidikan ala Ki Hadjar Dewantara diyakini bisa menciptakan pola komunikasi yang baik. Tri pusat pendidikan memastikan pelaksana pendidikan tidak sewenang-wenang dalam mendidik muridnya.

Dalam mendidik, perilaku guru tidak boleh kontraproduktif dengan tujuan pendidikan. Pendidikan yang benar adalah merangsang penalaran yang cermat dan disiplin mental, sehingga menghasilkan intelektual dengan capaian standar moral tinggi (Socrates, 470-399 SM).

Seorang guru tak boleh memaksa gagasan-gagasannya kepada siswa. Sebaliknya, seorang siswa harus didorong agar bisa mengembangkan pemikirannya sendiri dengan berpikir secara kritis. Guru otoriter justru membungkam kreativitas siswa dan berdampak kurang baik pada masa depan intelektualitasnya.

Pengaruh Teknologi

Mendidik anak di era kekinian gampang-gampang susah. Akhir-akhir ini banyak keluhan dari kalangan orangtua, dimana anak zaman now cenderung egois, kurang daya juang, kurang toleran, kurang menghormati orangtua, dan bermental kerupuk alias gampang melempem.

Satu di antara penyebabnya adalah siaran-siaran televisi yang tidak bermutu, tontonan di dunia maya yang tidak terkontrol, ditambah gempuran beragam berita hoax yang menyesatkan.

Teknologi informasi terus berkembang. Keberadaannya bagaikan pisau bermata dua. Teknologi informasi bisa berdampak negatif maupun positif, tergantung bagaimana user menggunakannya.

Maka dari itu teknologi informasi tak bisa disalahkan, tetapi kita kembali mempertanyakan bagaimana peran orangtua, sekolah, dan masyarakat. Pemerintah perlu mengambil peran agar bisa membatasi dampak buruk teknologi informasi.

Di era kekinian, pembentukan karakter anak yang gagal tak sepenuhnya kesalahan orangtua, sekolah, dan masyarakat. Perkembangan zaman, teknologi informasi, dan ilmu pengetahuan, punya peran besar dalam pembentukan karakter seseorang.

Pola hidup Generasi Z dan Generasi Alpha sudah dipengaruhi kemajuan teknologi. Maka dari itu peran orangtua, sekolah, dan masyarakat, perlu diperkuat agar bisa meminimalisasi dampak buruk perkembangan teknologi informasi.

Mengingat dampak buruk dari teknologi informasi, orangtua perlu mengatur anak agar tidak kecanduan teknologi saat kecil, atau usia masih di bawah 17 tahun.

Permasalahannya, orangtua zaman now sudah banyak yang kecanduan teknologi, terutama gadget. Untuk itu orangtua juga harus pintar mengatur dirinya sendiri. Kapan orangtua bermain gadget, dan kapan orangtua harus memperhatikan anaknya.

Digital Awareness UK (DAUK), sebuah organisasi yang peduli pada keselamatan pengguna gadget di Inggris, bekerja sama dengan Konferensi pada Kepala Sekolah (HMC), melakukan survei terhadap 700 anak berusia 11-18 tahun.

Hasilnya, sebanyak 14% anak yang disurvei mengatakan, orangtua mereka online pada waktu makan, walaupun 95% dari 3.000 orangtua yang disurvei membantahnya.

Hasil lain dari survei itu adalah 82% anak berharap waktu makan harus bebas dari gawai. Sementara itu, 22% anak menilai penggunaan gawai membuat mereka tak menikmati kebersamaan keluarga, dan 36% pernah meminta orangtua mereka menaruh gawainya.

Dan, dari murid yang meminta orangtua mereka menaruh gawai, 46% orangtua tidak mempedulikan, sehingga 44% di antaranya merasa diabaikan.

(Baca; Hasil Survey: Anak Berharap Orang Tua Lepaskan Gadget; https://sahabatkeluarga.kemdikbud.go.id/laman/index.php?r=tpost/xview&id=4223)

Fakta survei di atas menunjukkan bahwa hubungan anak dan orangtua di era kekinian mesti dirawat secara harmonis, jangan sampai gawai menjauhkan yang dekat. Hubungan anak dan orangtua harus benar-benar dekat dengan manajemen penggunaan gawai yang bijaksana.

Perkuat Peran Orangtua

Tantangan dunia pendidikan di era kekinian ini benar-benar nyata. Bagaimana sekolah benar-benar bisa merangkul orangtua, masyarakat, dan pemerintah, untuk menciptakan generasi yang unggul dan berdaya saing di era global.

Ada pola hubungan yang perlu disamakan frekuensinya agar komunikasi yang terbangun dalam ekosistem tri pusat pendidikan berjalan apik. Sekolah, orangtua, dan masyarakat, harus bisa beradaptasi dengan perkembangan teknologi informasi dan ilmu pengetahuan.

Pelibatan keluarga dan masyarakat dalam penyelenggaraan pendidikan adalah keharusan. Apapun prestasi sekolah dalam mendidik siswa bakal mubazir kalau lingkungan keluarga dan masyarakat tak bisa bersinergi. (*) #sahabatkeluarga

LEAVE A RESPONSE

Your email address will not be published. Required fields are marked *