KEN JAGATPARAHITA

Jujur, Tertib, Sopan

News School Travel

Ken Panasaran Tugu Yogyakarta

Juru Catat Kenjagatparahita.Id, PapaKen

KENJAGATPARAHITA.ID , YOGYA – Ken Jagatparahita menonton video tentang Yogyakarta di kelasnya, TK Pedagogia Yogyakarta. Ada satu ikon Yogyakarta yang menarik perhatiannya, yakni Tugu Pal Putih. Sampai rumah, Ken ngomong sama mama kepengin sekali lihat Tugu. Ken penasaran.

Cerita itu sampai ke telinga papaKen malam hari, sepulang kerja. “Pa, aku pengin lihat Tugu,” kata Ken saat dihampiri papa. Mendengar permintaan itu, papa langsung menyetujui. “Oke, besok kita ke Tugu. Setelah papa pulang kerja ya. Jadi kita malam ke Tugu,” jawab papa.

“Sudah. Sekarang dah malam. Ken tidur dulu ya,” pinta papa sambil memijit kaki Ken.

Ken tak langsur tidur. Dia mengajak ngobrol ngalor-ngidul. Hingga pada akhirnya Ken kantuk, lalu terlelap.

Tugu ini memang ikon Yogyakarta. Sekolah Ken barangkali pengin menunjukkan ikon Yogyakarta itu melalui video.

Tugu Yogyakarta dibangun pemerintah Belanda setelah Tugu sebelumnya runtuh akibat gempa bumi. Tugu sebelumnya yang bernama Tugu Golong-Gilig, dibangun oleh Hamengkubuwana I, pendiri Keraton Yogyakarta.

Tugu terletak di perempatan Jalan Jenderal Sudirman dan Jalan Margo Utomo Yogyakarta. Lokasinya hanya sekitar dua kilometer dari kantor papaKen.

Tugu ini mempunyai nilai simbolis dan merupakan garis yang bersifat magis menghubungkan laut selatan, Keraton Yogyakarta, dan Gunung Merapi. Pada saat melakukan meditasi, konon Sultan Yogyakarta menggunakan Tugu ini sebagai patokan arah menghadap puncak Merapi.

Tugu ini sekarang merupakan objek pariwisata, dikenal dengan istilah Tugu Pal Putih, karena warna cat yang digunakan sejak dulu adalah warna putih.

Malam telah larut. Akhirnya papaKen tidur. Pagi serasa menyambut begitu cepat. Mungkin karena papaKen tidurnya sudah dini hari. “Pa bangun, bantu siap-siap,” kata mama.

Terlihat Ken masih di kamar dan enggan segera mandi. “Ken mandi, ayo dah siang,” kata mama.

Tak lama kemudian, Ken pun mandi. Diteruskan dandan dan sarapan, lalu berangkat ke sekolah. Papa dan mama pun beraktivitas masing-masing. Benar saja, setelah papa pulang kerja, papa dan mama mengajak Ken melihat Tugu.

Mengendarai Astrea Grand milik Pakde Sigit, Ken sekeluarga menuju Tugu. Ken tak begitu lama di Tugu. Setelah lihat, Ken mengajak makan, meskipun akhirnya cuma sesendok gulai sapi saja. Gulai sapi ini cukup terkenal, penjualnya persis di utara Tugu. Sepiring gulai sapi campur Rp10.000.

Malam itu Ken malah tertarik menyeruput es jeruk. Mungkin Ken masih kenyang, karena sempat makan lauk gudek sebelum berangkat ke Tugu. “Habis ini Ken foto di Tugu ya,” ajak papa. “Iya,” jawab Ken.

Selepas makan, Ken pun langsung menuju Tugu. Mama menjadi fotografer dadakan. Mendokumentasikan Ken di Tugu, ikon Yogyakarta yang bikin dia penasaran. Hmm.. Gimana Ken. Tugu asyik ya, cuma gitu aja kan.. Tapi banyak wisatawannya yang mau ambil foto lho. Kalau belum ke Tugu, berarti belum komplit main ke Yogyakarta. Hehehe (*)

LEAVE A RESPONSE

Your email address will not be published. Required fields are marked *